Senin, 17 Februari 2014

Ini Rindu

Sebelum aku tahu akan artinya cinta
Terlena dibawanya ke sana
Setelah dia pergi baru aku mengerti
Ku telah jatuh cinta padanya

Aku rindu
Katakan padanya aku rindu
Burung nyanyikanlah
Katakan padanya aku rindu

Apabila cinta singgah di hati
Bola sesat ku tak memandang
Melihat api seperti air
Dan melihat air laksana api
Meskipun banyaknya nasehat asmara
Namun tiada ada satupun pengobat rindu
Telinga jadi tuli mata jadi buta
Begitupun panasnya demam asmara
Mulutpun bisu lidahpun keluh
Karena cinta

Biarlah cinta berjuta-berjuta menggoda jiwa
Biarlah hati berkeping-keping asal kau ada di sisiku

Minggu, 16 Februari 2014

Terima Kasih

Ketika ku tak lagi bisa berdiri dan aku tenggelam dalam kegelapan
Kau datang menghampiriku
Membawakan sebuah cahaya yang dapat menerangi
Hatiku yang telah dimakan oleh kegelapan masa lalu
Kau genggam tanganku dan kau bawa aku lari
Menuju cahaya di ujung jalan ini
Waktu terus berjalan dan berjalan
Kau selalu menemaniku dalam keadaan suka maupun duka
Kau selalu tersenyum ketika aku sedih
Kau hibur aku dengan canda tawamu
Kau selalu membuatku tersenyum
Kau peluk aku ketika aku merasa dingin dan sepi
Kau genggam tanganku ketika ku terjatuh dan tak berani bangkit
Aku merasakan hal yang baru dalam hidupku
Bukanlah diriku yang dulu selalu diliputi oleh rasa gelisah
Kau hancurkan rasa itu dalam kalbuku
Kau selalu mendorongku untuk selalu berjalan maju
Aku....
Mengucapkan terima kasih atas semua yang telah kau lakukan
Aku...
Selalu berharap kita dapat berjalan bersama ke masa depan
Aku...
Selalu berharap kita dapat bersama untuk melewati semua hari
Aku....
Senang dapat bertemu denganmu dan aku mensyukuri hal itu
Aku...
Merasakan hal yang berbeda ketika aku dekat denganmu
Aku...
Merasakan nyaman dan tentram dalam kalbu
Aku...
Merasakan kekhawatiran ketika kau kenapa kenapa
Karena kau sudah menjadi orang berarti dalam hidupku
Tetaplah di sini, di sampingku, dan temani aku
Jangan pergi meninggalkan aku
Seorang diri lagi
Menjadi sebuah daun yang terobang ambing di tengah lautan

Kamis, 13 Februari 2014

Gundah Gulana

Aku tak mengerti apa yang aku rasakan
Aku tak mengerti kenapa ini semua terjadi
Begitu cepat dan semua berantakan
Sungguh kacau hati ini

Ku hanya terdiam sejenak
Ku hanya menatap langit
Dengan tatapan kosong
Dengan tatapan hampa

Perasaan ini mencabik-cabikku
Tanpa belas kasihan
Membuatku terjatuh terjungkal
Membawaku ke lembah hitam

Ku ingin membunuh kalbu ini
Ku ingin menusuk dadaku ini
Dengan sebilah pisau di depanku
Dengan hujaman dahsyat menusuk

Ingin ku remukkan dadaku
Ingin ku hancukan jantungku
Terdiam tanpa rasa
Cahaya mulai meredup

Tapi aku tak bisa melakukan semua itu
Aku tak kuasa membunuh kalbuku
Aku tak mungkin membuang semua itu
Itu bukanlah diriku...

Aku sudah terselimuti tirai hitam
Tak membiarkan mataku menatap
Membuatku gundah gulana
Menghasutku dengan brutal

Aku tahu itu semua hanyalah sebuah hasutan
Aku mulai goyah
Aku terlalu memikirkan hal yang tak penting
Ini bukan diriku...

Aku tahu aku hanya merasa rindu
Aku tahu itu semua hanya aku merasa takut
Merasa khawatir...
Kehilangan....

Aku tak kuasa menahan perasaanku
Tetesan air mata kan memberi isyarat
Aku...
Sangat sayang...
Sungguh sayang...
Takut tuk kehilangan...

.....................................

Sabtu, 01 Februari 2014

Sebuah Komitmen

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Ini adalah sebuah tulisanku yang pertama kali aku publikasikan menengenai hal yang cukup umum, tapi bukan menjadi bidangku secara khusus. Aku akan berbagi sebuah pengalamanku selama 15 tahun mengenai sebuah memegang sebuah komitmen. Mungkin, aku bukanlah seorang yang mudah untuk mengungkap sesuatu, khususnya hal yang bernama “Cinta”. Cinta bukan hanya identik dengan namanya pacar atau kekasih. Cinta bisa kita utarakan ke siapapun, kecuali kepada setan ya J. Tapi, aku akan mengutarakan pengalamanku tentang cinta untuk sebuah hubungan antara sepasang insan.
Selama 15 tahun aku baru sadar bahwa rasa cinta itu sangat berarti dalam hidup ini ketika aku mulai belajar untuk mengenal seorang wanita. Ketika itu aku masih berumur 10 thn. Sungguh, umur yang sangat muda untuk melakukan hal ini. Tapi, aku memulai sebuah hubungan pada usia 12 thn. Ketika itu, aku mulai merasakan hal yang berbrda ketika aku mengenal seorang wanita. Akhirnya, aku jalani hubungan itu. Awalnya, berjalan lancar. Tapi, setelah beberapa bulan mulai muncul masalah. Dan masalah itu sulit untuk aku selesaikan. Ya, masalah itu adalah jarak. Masalah yang sulit untuk mencari jalan keluarnya ketika kita masih berusia 13 tahun. Akhirnya, hubungan itupun kandas.
Aku terus mencari apa yang salah dengan hubunganku dulu. Ketika aku melihat sekelilingku, aku mulai sadar bahwa banyak orang di luar sana yang menjalani hubungan, tapi akhirnya kandas dengan tragis. Terus apa yang menyebabkannya? Akupun terus mencari jawabannya. Pada usia 14 tahun, akhirnya aku menemukan titik cerah tentang pertanyaanku yang sungguh konyol itu. Aku mulai belajar dari hubungan kakakku. Kakakku mungkin sudah lebih berpengalaman daripada aku. Aku pernah dia tidak bisa melupakan sang mantan selama hamper 3 tahun. Itu terjadi ketika dia duduk di bangku SMA. Walaupun dia pernah menjalin hubungan semasa SMA, tapi dia tak bisa melupakan sang mantan di SMP, karena sang mantan adalah cinta pertamanya.
Di masa kuliahnya, dia bertekad untuk melupakan sang mantan. Akhirnya, dia menemukan hal yang dia butuhkan. Dia menjalin hubungan dengan teman sejurusan. Aku pernah berpikir, hubungan itu tak kan berjalan lama. Tapi, dugaanku salah. Mereka masih langgeng menjalin hubungan itu. Terus apa yang menyebabkannya? Aku masih bingung memikirkan hal itu.
Suatu hari, ayah dan ibuku pernah bertengkar. Ayahku hanya diam ketika ibuku mulai ngambek ke ayahku. Apa mereka saling membenci? Jawabannya adalah tidak. Mereka tetap saling menyayangi dan mencintai. Mereka saling diam adalah untuk merenungkan hal yang menyebabkan masalah tersebut dan mencoba menyelesaikannya dengan kepala dingin. Mereka tidak menghendaki sebuah perpisahan. Mereka saling menerima kekurangan satu sama lain. Mereka mencoba untuk menutupi kekurangan satu sama lain.
Akhirnya, aku menyimpulkan bahwa ketika kita menjalani sebuah hubungan, kita harus terlebih dahulu belajar untuk menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Kita belajar untuk menutupi kekurangan satu sama lain. Mengapa hal itu harus kita lakukan? Karena kita sudah membuat sebuah komitmen. Kita harus tahu bahwa sebuah masalah yang menimpa kita, kita harus mengingat sebuah komitmen yang kita buat itu. Kita mengambil sebuah keputusan pasti ada resikonya. Ketika kita tidak dapat memegang komitmen tersebut, pasti hubungan akan berakhir dengan hal yang tidak kita kehendaki. Tapi, jika kita terus memegangi komitmen tersebut, hubungan akan terus lanjut sampai kita tutup usia. Apa komitmen tersebut? Komitmen tersebut adalah “Aku cinta kamu, Aku sayang kamu, Aku tak mau kita berpisah, perpisahan bukanlah jalan keluar terbaik, Aku akan menerimamu apa adanya karena aku sayang dan cinta kepadamu”. Itulah komitmen yang mungkin ada dalam pikiranku.
Aku akan menjalani hubungan baruku ini dengan sebuah komitmen “Aku akan menerima kelebihan dan kekuranganmu. Aku akan menjaga hubungan ini selama mungkin. Berubah bersama menjadi lebih baik. Aku tak ingin kita berpisah karena aku cinta dan sayang kamu”. Itulah yang sebuah komitmen yang coba aku pegang untuk menjalani hubungan ini.
Sebenarnya, komitmen itu tergantung kepada orang yang membuatnya. Jadi, jika ada perbedaan itu adalah yang wajar. Karena setiap orang memiliki pendapatnya sendiri-sendiri. Dan aku hanya ingin hubunganku ini adalah hubunganku yang akan berjalan sampai akhir hayatku.
Maaf jika ada kata yang kurang berkenan dari cerita di atas. Aku hanyalah seorang manusia yang tak luput dari kesalahan.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Rabu, 29 Januari 2014

Apakah Sebaiknya Aku Mundur?

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Malam Kawan :) (Aku nulis malam hari). Aku di sini mau menulis sebuah tulisan yang berisikan sebuah ungkapan yang selalu ku pendam sendiri. Mungkin itu bukanlah tindakan yang bijaksana. Tapi, aku akan mengungkapnya di sini.

Hari ini adalah hari di mana aku bisa melihat semua sisi yang ada pada diriku. Aku bukanlah orang yang sempurna. Pasti itu. Pukul 19.47 malam ini aku mulai berpikir lagi mengenai masalah yang mungkin sudah tidak asing, karena aku pernah uraikan di postinganku dulu. Aku selalu berpikir dan berpikir. Aku ini bukanlah tipe orang suka bicara kasar ataupun keras. Mungkin aku ini orang yang terlalu sabar. Aku bukanlah orang yang bisa dibilang tegas. Terus kenapa aku selalu menjadi ketua kelas? Itulah pertanyaan yang sampai saat ini belum bisa aku temukan jawabannya.

Aku selalu melihat di kelas lain itu selalu kompak. Sedangkan di kelasku tak pernah kompak. Apa aku memang kurang bisa membuat kelas kompak? Aku bingung cara membuat kelas menjadi kompak. Bagaimana bisa aku buat kelas kompak? Aku saja kadang jarang didengar kalau bicara. Pusing. Mengapa di kelas ini sulit untuk kompak? Aku bingung. Sungguh aku bingung. Kalau saja mereka mau mendengarkanku sedikit saja. Mungkin aku bisa membuat perubahan.

Aku bingung harus berbuat apa. Aku tak tahu mau bagaimana lagi. Coba bayangkan saja. Aku menjadi ketua kelas, tapi kadang aku bingung bagaimana cara mengendalikan kelas. Apakah sebaiknya aku mundur dari jabatan ini? Jika aku terus menjabat, aku tak tahu akan menjadi apa kelas ini. Memang bergini caraku memimpin. Aku bukanlah orang yang suka marah-marah. Buat apa aku marah jika tak ada yang mendengarkan? Terus buat apa aku teriak teriak di kelas jika mereka sibuk sendiri dengan kegiatan mereka dan tak mau menganggapku? Apa salah jika aku lebih banyak diam daripada aku bicara hanya dianggap angin lalu? Aku ini tipe orang yang suka dengan kekompakan. Aku ini bukanlah orang yang suka membuat masalah menjadi ruwet. Aku ini orang yang suka menghadapi masalah dengan santai tapi serius.

Ya itulah mungkin ungkapan yang ingin aku sampaikan. Jika ada dari salah satu anak yang menempati kelas sama denganku maka, aku minta maaf jika selama ini aku memimpin kelas tidak tegas dan bijak. Aku ini bukanlah orang yang cocok dalam bidang ini. Maaf....

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Rabu, 22 Januari 2014

Matematika Part 1

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bagaimana kabarnya kawan semua? Semoga dalam keadaan sehat semua. Ammmiiinnnn....
Baiklah sekarang akan berbagai sebuah cara yang sangat simpel sekali untuk mempermudah para kawan semua untuk mengerjakan salah satu soal matematika. Mari kita baca bersama soalnya

Pada suatu hari Reza mempunyai 18 ekor ayam dan sapi. Setelah dihitung ada 50 kaki ayam dan sapi. Setelah 1 bulan ada beberapa ayam yang mati, sehingga jumlah ayam sama dengan jumlah sapi. Jumlah ayam dan sapi yang dimiliki Reza sekarang adalah...ekor.

Nah, di sini mari kita berlogika sedikit saja.
Bayangkan ada 18 ekor ayam dan sapi. Jadi, ayam + sapi = 18 ekor.
Mari kita bayangkan banyak kaki ayam dan sapi. Ayam memiliki kaki sebanyak 2 buah dan sapi sebanyak 4 buah. Jadi, kaki ayam + kaki sapi  = 50

Coba kita bayangkan jika semua adalah ayam. Maka, 18 x 2 = 36, dan sisa kaki adalah 50 - 36 = 14.
14 kaki sapi yang sudah dihitung hanya dua, dan dua kaki yang lainnya belum dihitung. Jadi sisanya 14 : 2 = 7 ekor sapi. Jadi banyak ayam adalah 18 - 7 = 11 ekor.

Yang ditanyakan pada soal di atas adalah berapa banyak jumlah ayam dan sapi jika jumlah masing-masing keduanya sama. Maka, kita cukup menjawab 7 x 2 = 14 ekor. Jadi, jumlah ayam dan sapi Reza sekarang adalah 14 ekor.

Coba kita buktikan dengan cara biasa, yaitu dengan membuat persamaan 2 variabel.
Ayam + Sapi = 18, maka dapat ditulis dengan persamaan A + S = 18
Ayam memiliki 2 kaki dan sapi memiliki 4 kaki. Jumlah keduanya adalah 50, maka dapat ditulis dengan persamaan 2A + 4S = 50

Cara:
(A + S = 18) x 2
(2A + 4S = 50) x 1

2A + 2S = 36
2A + 4S = 50
................... -
0A + (-2S) = -14
-2S = 14
S = -14 : (-2)
S = 7, maka sapi = 7 ekor

Kita substitusikan ke salah satu persamaan
A + S = 18
A + 7 = 18
A = 18 - 7
A = 11, maka ayam = 11 ekor.

karena kita hanya mencari jumlah ayam dan sapi sekarang, maka cukup dihitung dengan 2 x 7 = 14 ekor. (jumlah sapi dan ayam sama)

Itulah sedikit dari saya, semoga bermanfaat bagi kawan semua. Jika ada waktu luang saya akan memberikan sebuah penyelesaian matematika dengan cara yang simpel. Jangan takut dengan matematika. Matematika itu hanya sekumpulan angka yang dimainkan kok. :)
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya. Dan selamat bertemu kembali di lain kesempatan :)

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Sabtu, 18 Januari 2014

Sebuah Akhir dari Petualanganku di Tempat Ini

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Tak terasa kurang lebih 3 bulan lagi aku akan menghabiskan masa-masa pendidikanku di tempat ini. Sebuah hal yang paling sulit untuk dihindari. Tapi, aku harus melewatinya. Sudah banyak kenangan di tempat ini yang membuatku sulit untuk melupakannya. Di sinilah tempat aku merasakan segala rasa pahit dan manis yang silih berganti. Tapi, aku akan mengakhiri salah satu sebuah episode petualanganku di sini dengan rasa manis yang akan aku kenang selama hidupku. Aku ingin berbagi beberapa cerita yang sangat berkesan selama aku berpetualang di tempat ini. Tempat di mana aku bisa bertemu dengan makhluk-makhluk yang mungkin harus banyak aku teliti (memang spesies baru -_-). Hahaha... sudahlah jangan dibahas kata-kata anehku tadi. Sekarang aku akan mulai bercerita. Selamat membaca... ^^.

Suatu hari (he? Ini dongeng apa mau cerita seperti biasa?) sudah sudah bikin pusing yang cerita nih. Sudah dengarkan sajalah aku bercerita ok.

He'em he'em uhuk uhuk... Bismillahirrahmannirrahim...

Cerita ini berawal dari aku masuk ke sebuah sekolah yang ku anggap sangat bagus. Biasa aku kan anak desa yang baru masuk ke sekolah di kota besar. (Wah kau sungguh katrok). Diam kau yang di sana!!. Aku mulai sekolahku dengan riang gembira. Aku sudah jenuh di rumah kurang lebih hampir 2 bulan. (Kau habiskan buat apa?). Ehm... ya makan tidur eh... diam kau!!! Aku jadi tak konsentrasi bercerita. Oke, kita lanjutkan ceritanya. Aku langsung saja ke inti ceritanya saja ya. (Memang kau belum masuk ke inti cerita?). Plak!!! Sudah ku bilang diam dan dengarkan saja ceritanya. Aku masuk ke kelas 7A waktu mos. Ya waktu itu masih polos-polosnya. Aku mulai cari teman. Temanku pertama kita sebut saja Amat. Amat ini lulusan dari MI. Aku pikir pasti baik tu anak. Lulusan MI (Belum tentu tu). Iya memang belum menentukan sifat sebenarnya. Teman pertamaku ini tidak satu kelas selama mos. Selama mos aku punya teman lain. Sebut saja namanya Mawan. Kelihatannya anaknya pendiam. Memang pendiam dia. Selama mos aku jalani dengan riang gembira. (Masa'?). Sudahlah capek aku berbicara dengan kau. Tapi, ada hal yang menarik perhatianku ketika ada anak perempuan yang sungguh berani ngomong di depan teman-teman dan menyanyikan sebuah lagu. (Kau jatuh cinta ya?). Belum belum. Waktu itu aku punya sendiri. Lho kok aku jadi curhat. Tak apalah nanti juga ada cerita tentang dia juga kok. 

Aku sih waktu itu ingin kenalan. Tapi, malu.. cuy. (Memang kau punya malu?). Hhhhhnnnngggg --" Plak!!. Oke kita lanjut lagi. Setelah beberapa minggu setelah aku menjalani mos, kelas mulai diacak lagi. Aku tidak sekelas lagi dengan temanku, Mawan. Ya sudahlah tak apa. Akhirnya aku masuk ke kelas 7G bersama Fajar teman sekelasku selama mos. Di sinilah aku bertemu dengan Yazid, sahabatku sampai saat ini. Dia adalah anak sangat susah untuk diajak guyon. (Memang kau bisa melucu?). Itu sih tergantung dari apa yang aku pikirkan saat itu. Anak yang satu ini kalau aku ajak guyon pasti ditanggapi serius. Memang banyak yang mengatakan aku ini bermuka serius. Seperti muka-muka orang kejam. (Muka kau itu muka konyol). Sabar-sabar. Aku dulu kelas 7 pernah dekat dengan seseorang. Kita sebut saja namanya Lia. (Cieee kau pernah deket sama perempuan? Keajaiban yang luat biasa). Iyaiya--. Tapi, tidak terlalu dekat sama dia. Karena... (Kenapa kau? Epilepsi kau kumat?). Enak saja kau bicara. Aku tak punya penyakit aneh itu. Karena dia ternyata lebih dari apa yang aku bayangkan. Aku sempat digosipkan dengan dia. (Wah ternyata di sana anaknya kurang pandai mencari berita. Kenapa harus kau yang diambil beritanya?) Memangnya aku kurang enak diberitakan gitu. Memang kau pantas untuk diberitakan?(Ya tak juga. Nanti yang dengar takut semua kali). Aku semakin lama tak dekat lagi dengan dia. (Kenapa mas bro?). Ya gitu deh dia, kalau marah wah... mengerikan dan berubah menjadi lain. Tapi, aku mencoba untuk setia waktu itu. (Cie ilah kau ini setia-setian juga kau, tapi akhirnya kau juga putus). Diam kau!! Sekarang aku sudah punya pengganti kok. Ya masa kelas 7 ku memang tak terlalu berkesan. Tapi aku bisa bertemu dengan makhluk-makhluk itu juga aku sudah senang kok.

Masuk kelas 8, inilah saatnya untuk menceritakan hal yang sangat aneh dan gila-gilaan. (Memang kau dulu pernah aneh dan gila-gilaan?) Ya pernah dong. Aku kan di sini bertemu dengan makhluk-makhluk yang super aneh penghuni tempat ini. Aku di sini bertemu dengan Al, Re, Nem, Ti, and Yu. (Tu nama simpel amat). Sudahlah ini privasi. Nanti yang punya nama protes. Waktu pertama kali sekelas belum terjadi kegilaan yang aneh. Tapi, setelah beberapa bulan dijalani dengan sepenuh hati akhirnya muncul juga. Suatu ketika kami berlima duduk bersama, Aku, Al, Re, Nem, and Ti. (Lha terus Yu nya mana?) Oh kalau dia lebih suka menyendiri. Kelima anak ini, sungguh generasi emas untuk Stand Up Comedy semua. Yang Al ini anak yang super aneh. Kalau lagi riang gembira, gempar kelas, kalau lagi galau, lebay, kalau marah, nggak mengerikan. Terus Re. Anak yang satu ini punya suara yang langka. Kadang bisa imut seperti bayi. Kadang bisa kayak suara bumi bergerak. Selanjutnya Nem. Anak yang satu ini sebenaranya sudah aku kenal sejak kelas 7 sama Si Re. Tapi, aku baru tahu sifat aslinya ketika aku duduk di kelas 8 ini. Anak yang satu ini salah kemasukan roh mungkin dulu. (Kok bisa?). Ya begitulah tingkahnya seperti anak laki-laki. Aku bisa bilang pencilakaan berlebihan. Terus yang matanya sulit untuk melek, Ti. Anak yang satu ini selalu ngantukan di kelas. Untung saja nggak pernah ketiduran di kelas anak tu. Wajah-wajah tak bersemangat. Entah karena cinta tak tersampaikan tuh anak. Paling senang baca segala jenis komik dan novel. Dan yang terakhir adalah Yu. Anak yang paling kalem lan alim dari kita semua. Cowok paling anti cewek. Memang selama sekolah dia paling virgin dari kita semua. (He?). Ya begitulah makhluk-makhluk aneh ini bertemu denganku.

Kelas 8 adalah masa-masa di mana aku bisa mengekspresikan semua apa yang aku ingin ekspresikan.

Di kelas 9 adalah kelas di mana aku mulai bertemu dengan pujaan hatiku (Cieee Kau punya pujaan hati ternyata). Lho iya dong.  Memang semua tidak terjadi secara spontan. Tapi, aku selalu setia menunggu kok. Awal masuk kelas Sembilan, aku g dirundung kegalauan. Aku selalu keingat kenangan dengan sang mantan. Tapi, aku berusaha untuk melupakannya.(Wah hebat kau. Ternyata kau pernah galau juga). Ya iyalah aku kan punya hati juga. Tapi akhirnya aku bisa melupakan kenangan itu ketika aku mulai mengenal dia. (Dia?). Iya dia. (Siapa?). Ya itulah pokoknya. Aku mulai bisa melupakannya ketika aku mendapat surat ucapan ultah darinya. Aku memang harus mencari pengirimnya dulu. Tapi, aku sudah menebak dia pengirimnya. Aku mulai suka dengan dia. Dan pada akhirnya, dia mengatakan kalau dia suka denganku. Aku juga suka dengan dia.(Akhirnya kau merasakan jatuh cinta ya). Ya begitulah. Aku mulai merasakan hal yang sulit diungkapakan. Akhirnya, aku berencana untuk menembaknya. Tapi, aku masih punya janji pada diriku. (Janji apa kawan?). Janji jika aku tak pacaran dulu. (Tapi kau suka dengan dia kan?). Iya memang aku suka dengan dia, aku sayang dengan dia. (Lha terus kau bagaimana?). Akhirnya aku mengatakan aku akan nembak dia setelah UN. (Terus dia mau?). Iya. Dia mau menungguku. Dan aku tak ingin mengkhianati kepercayaannya. (Kau memang asyik kawan). Terima kasih kawan. Aku akan terus mengejar apa yang aku mimpikan. Aku akan terus melangkah dengan dia. (Asyik kawan. Semoga kalian langgeng kawan). Amin… kawan. Terima kasih do’anya. Dan aku akhirnya teringat sesuatu. Aku harus menyelesaikan sebuah petualanganku di sini kawan. Aku harus menutup petualanganku dengan sebuah prestasi yang memuaskan. Aku akan membuat sejarah di tempat ini. (Semangat kawan. Semoga itu dapat tercapai). Amin… kawan.

Itulah sepenggal dari ceritaku. Maaf jika ada kata-kata yang kurang mengenakan. Terima kasih sudah membaca. Akhirnya aku bisa berbagi cerita. (Ciiiieeee yang mau jadian). Diam kau!! (Hahahaha muka kau merah).


 Wassalamu'alaikum Wr. Wb. ^^