Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Tak terasa kurang lebih 3 bulan lagi aku akan menghabiskan
masa-masa pendidikanku di tempat ini. Sebuah hal yang paling sulit untuk
dihindari. Tapi, aku harus melewatinya. Sudah banyak kenangan di tempat ini
yang membuatku sulit untuk melupakannya. Di sinilah tempat aku merasakan segala
rasa pahit dan manis yang silih berganti. Tapi, aku akan mengakhiri salah satu
sebuah episode petualanganku di sini dengan rasa manis yang akan aku kenang
selama hidupku. Aku ingin berbagi beberapa cerita yang sangat berkesan selama
aku berpetualang di tempat ini. Tempat di mana aku bisa bertemu dengan
makhluk-makhluk yang mungkin harus banyak aku teliti (memang spesies baru -_-).
Hahaha... sudahlah jangan dibahas kata-kata anehku tadi. Sekarang aku akan
mulai bercerita. Selamat membaca... ^^.
Suatu hari (he? Ini dongeng apa mau cerita
seperti biasa?) sudah sudah bikin pusing yang cerita nih. Sudah dengarkan
sajalah aku bercerita ok.
He'em he'em uhuk uhuk... Bismillahirrahmannirrahim...
He'em he'em uhuk uhuk... Bismillahirrahmannirrahim...
Cerita ini berawal dari aku masuk ke
sebuah sekolah yang ku anggap sangat bagus. Biasa aku kan anak desa yang baru
masuk ke sekolah di kota besar. (Wah kau sungguh katrok). Diam kau yang di
sana!!. Aku mulai sekolahku dengan riang gembira. Aku sudah jenuh di rumah
kurang lebih hampir 2 bulan. (Kau habiskan buat apa?). Ehm... ya makan tidur
eh... diam kau!!! Aku jadi tak konsentrasi bercerita. Oke, kita lanjutkan
ceritanya. Aku langsung saja ke inti ceritanya saja ya. (Memang kau belum masuk
ke inti cerita?). Plak!!! Sudah ku bilang diam dan dengarkan saja ceritanya.
Aku masuk ke kelas 7A waktu mos. Ya waktu itu masih polos-polosnya. Aku mulai
cari teman. Temanku pertama kita sebut saja Amat. Amat ini lulusan dari MI. Aku
pikir pasti baik tu anak. Lulusan MI (Belum tentu tu). Iya memang belum
menentukan sifat sebenarnya. Teman pertamaku ini tidak satu kelas selama mos.
Selama mos aku punya teman lain. Sebut saja namanya Mawan. Kelihatannya anaknya
pendiam. Memang pendiam dia. Selama mos aku jalani dengan riang gembira.
(Masa'?). Sudahlah capek aku berbicara dengan kau. Tapi, ada hal yang menarik
perhatianku ketika ada anak perempuan yang sungguh berani ngomong di depan
teman-teman dan menyanyikan sebuah lagu. (Kau jatuh cinta ya?). Belum belum.
Waktu itu aku punya sendiri. Lho kok aku jadi curhat. Tak apalah nanti juga ada
cerita tentang dia juga kok.
Aku sih waktu itu ingin kenalan. Tapi,
malu.. cuy. (Memang kau punya malu?). Hhhhhnnnngggg --" Plak!!. Oke kita
lanjut lagi. Setelah beberapa minggu setelah aku menjalani mos, kelas mulai
diacak lagi. Aku tidak sekelas lagi dengan temanku, Mawan. Ya sudahlah tak apa.
Akhirnya aku masuk ke kelas 7G bersama Fajar teman sekelasku selama mos. Di
sinilah aku bertemu dengan Yazid, sahabatku sampai saat ini. Dia adalah anak
sangat susah untuk diajak guyon. (Memang kau bisa melucu?). Itu sih tergantung
dari apa yang aku pikirkan saat itu. Anak yang satu ini kalau aku ajak guyon
pasti ditanggapi serius. Memang banyak yang mengatakan aku ini bermuka serius.
Seperti muka-muka orang kejam. (Muka kau itu muka konyol). Sabar-sabar. Aku
dulu kelas 7 pernah dekat dengan seseorang. Kita sebut saja namanya Lia. (Cieee
kau pernah deket sama perempuan? Keajaiban yang luat biasa). Iyaiya--. Tapi,
tidak terlalu dekat sama dia. Karena... (Kenapa kau? Epilepsi kau kumat?). Enak
saja kau bicara. Aku tak punya penyakit aneh itu. Karena dia ternyata lebih
dari apa yang aku bayangkan. Aku sempat digosipkan dengan dia. (Wah ternyata di
sana anaknya kurang pandai mencari berita. Kenapa harus kau yang diambil
beritanya?) Memangnya aku kurang enak diberitakan gitu. Memang kau pantas untuk
diberitakan?(Ya tak juga. Nanti yang dengar takut semua kali). Aku semakin lama
tak dekat lagi dengan dia. (Kenapa mas bro?). Ya gitu deh dia, kalau marah
wah... mengerikan dan berubah menjadi lain. Tapi, aku mencoba untuk setia waktu
itu. (Cie ilah kau ini setia-setian juga kau, tapi akhirnya kau juga putus).
Diam kau!! Sekarang aku sudah punya pengganti kok. Ya masa kelas 7 ku memang
tak terlalu berkesan. Tapi aku bisa bertemu dengan makhluk-makhluk itu juga aku
sudah senang kok.
Masuk kelas 8, inilah saatnya untuk
menceritakan hal yang sangat aneh dan gila-gilaan. (Memang kau dulu pernah aneh
dan gila-gilaan?) Ya pernah dong. Aku kan di sini bertemu dengan makhluk-makhluk
yang super aneh penghuni tempat ini. Aku di sini bertemu dengan Al, Re, Nem,
Ti, and Yu. (Tu nama simpel amat). Sudahlah ini privasi. Nanti yang punya nama
protes. Waktu pertama kali sekelas belum terjadi kegilaan yang aneh. Tapi,
setelah beberapa bulan dijalani dengan sepenuh hati akhirnya muncul juga. Suatu
ketika kami berlima duduk bersama, Aku, Al, Re, Nem, and Ti. (Lha terus Yu nya
mana?) Oh kalau dia lebih suka menyendiri. Kelima anak ini, sungguh generasi
emas untuk Stand Up Comedy semua. Yang Al ini anak yang super aneh. Kalau lagi
riang gembira, gempar kelas, kalau lagi galau, lebay, kalau marah, nggak
mengerikan. Terus Re. Anak yang satu ini punya suara yang langka. Kadang bisa
imut seperti bayi. Kadang bisa kayak suara bumi bergerak. Selanjutnya
Nem. Anak yang satu ini sebenaranya sudah aku kenal sejak kelas 7 sama Si Re.
Tapi, aku baru tahu sifat aslinya ketika aku duduk di kelas 8 ini. Anak yang
satu ini salah kemasukan roh mungkin dulu. (Kok bisa?). Ya begitulah tingkahnya
seperti anak laki-laki. Aku bisa bilang pencilakaan berlebihan. Terus yang
matanya sulit untuk melek, Ti. Anak yang satu ini selalu ngantukan di kelas.
Untung saja nggak pernah ketiduran di kelas anak tu. Wajah-wajah tak
bersemangat. Entah karena cinta tak tersampaikan tuh anak. Paling senang baca
segala jenis komik dan novel. Dan yang terakhir adalah Yu. Anak yang paling
kalem lan alim dari kita semua. Cowok paling anti cewek. Memang selama sekolah
dia paling virgin dari kita semua. (He?). Ya begitulah makhluk-makhluk aneh ini
bertemu denganku.
Kelas 8 adalah masa-masa di mana aku bisa mengekspresikan semua apa yang aku
ingin ekspresikan.
Di kelas 9 adalah kelas di mana aku mulai
bertemu dengan pujaan hatiku (Cieee Kau punya pujaan hati ternyata). Lho iya
dong. Memang semua tidak terjadi secara spontan. Tapi, aku selalu setia
menunggu kok. Awal masuk kelas Sembilan, aku g dirundung kegalauan. Aku selalu
keingat kenangan dengan sang mantan. Tapi, aku berusaha untuk melupakannya.(Wah
hebat kau. Ternyata kau pernah galau juga). Ya iyalah aku kan punya hati juga.
Tapi akhirnya aku bisa melupakan kenangan itu ketika aku mulai mengenal dia.
(Dia?). Iya dia. (Siapa?). Ya itulah pokoknya. Aku mulai bisa melupakannya
ketika aku mendapat surat ucapan ultah darinya. Aku memang harus mencari
pengirimnya dulu. Tapi, aku sudah menebak dia pengirimnya. Aku mulai suka
dengan dia. Dan pada akhirnya, dia mengatakan kalau dia suka denganku. Aku juga
suka dengan dia.(Akhirnya kau merasakan jatuh cinta ya). Ya begitulah. Aku mulai
merasakan hal yang sulit diungkapakan. Akhirnya, aku berencana untuk
menembaknya. Tapi, aku masih punya janji pada diriku. (Janji apa kawan?). Janji
jika aku tak pacaran dulu. (Tapi kau suka dengan dia kan?). Iya memang aku suka
dengan dia, aku sayang dengan dia. (Lha terus kau bagaimana?). Akhirnya aku
mengatakan aku akan nembak dia setelah UN. (Terus dia mau?). Iya. Dia mau
menungguku. Dan aku tak ingin mengkhianati kepercayaannya. (Kau memang asyik
kawan). Terima kasih kawan. Aku akan terus mengejar apa yang aku mimpikan. Aku
akan terus melangkah dengan dia. (Asyik kawan. Semoga kalian langgeng kawan).
Amin… kawan. Terima kasih do’anya. Dan aku akhirnya teringat sesuatu. Aku harus
menyelesaikan sebuah petualanganku di sini kawan. Aku harus menutup
petualanganku dengan sebuah prestasi yang memuaskan. Aku akan membuat sejarah
di tempat ini. (Semangat kawan. Semoga itu dapat tercapai). Amin… kawan.
Itulah sepenggal dari ceritaku. Maaf jika ada kata-kata yang
kurang mengenakan. Terima kasih sudah membaca. Akhirnya aku bisa berbagi
cerita. (Ciiiieeee yang mau jadian). Diam kau!! (Hahahaha muka kau merah).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar