Sabtu, 18 Januari 2014

Sebuah Akhir dari Petualanganku di Tempat Ini

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Tak terasa kurang lebih 3 bulan lagi aku akan menghabiskan masa-masa pendidikanku di tempat ini. Sebuah hal yang paling sulit untuk dihindari. Tapi, aku harus melewatinya. Sudah banyak kenangan di tempat ini yang membuatku sulit untuk melupakannya. Di sinilah tempat aku merasakan segala rasa pahit dan manis yang silih berganti. Tapi, aku akan mengakhiri salah satu sebuah episode petualanganku di sini dengan rasa manis yang akan aku kenang selama hidupku. Aku ingin berbagi beberapa cerita yang sangat berkesan selama aku berpetualang di tempat ini. Tempat di mana aku bisa bertemu dengan makhluk-makhluk yang mungkin harus banyak aku teliti (memang spesies baru -_-). Hahaha... sudahlah jangan dibahas kata-kata anehku tadi. Sekarang aku akan mulai bercerita. Selamat membaca... ^^.

Suatu hari (he? Ini dongeng apa mau cerita seperti biasa?) sudah sudah bikin pusing yang cerita nih. Sudah dengarkan sajalah aku bercerita ok.

He'em he'em uhuk uhuk... Bismillahirrahmannirrahim...

Cerita ini berawal dari aku masuk ke sebuah sekolah yang ku anggap sangat bagus. Biasa aku kan anak desa yang baru masuk ke sekolah di kota besar. (Wah kau sungguh katrok). Diam kau yang di sana!!. Aku mulai sekolahku dengan riang gembira. Aku sudah jenuh di rumah kurang lebih hampir 2 bulan. (Kau habiskan buat apa?). Ehm... ya makan tidur eh... diam kau!!! Aku jadi tak konsentrasi bercerita. Oke, kita lanjutkan ceritanya. Aku langsung saja ke inti ceritanya saja ya. (Memang kau belum masuk ke inti cerita?). Plak!!! Sudah ku bilang diam dan dengarkan saja ceritanya. Aku masuk ke kelas 7A waktu mos. Ya waktu itu masih polos-polosnya. Aku mulai cari teman. Temanku pertama kita sebut saja Amat. Amat ini lulusan dari MI. Aku pikir pasti baik tu anak. Lulusan MI (Belum tentu tu). Iya memang belum menentukan sifat sebenarnya. Teman pertamaku ini tidak satu kelas selama mos. Selama mos aku punya teman lain. Sebut saja namanya Mawan. Kelihatannya anaknya pendiam. Memang pendiam dia. Selama mos aku jalani dengan riang gembira. (Masa'?). Sudahlah capek aku berbicara dengan kau. Tapi, ada hal yang menarik perhatianku ketika ada anak perempuan yang sungguh berani ngomong di depan teman-teman dan menyanyikan sebuah lagu. (Kau jatuh cinta ya?). Belum belum. Waktu itu aku punya sendiri. Lho kok aku jadi curhat. Tak apalah nanti juga ada cerita tentang dia juga kok. 

Aku sih waktu itu ingin kenalan. Tapi, malu.. cuy. (Memang kau punya malu?). Hhhhhnnnngggg --" Plak!!. Oke kita lanjut lagi. Setelah beberapa minggu setelah aku menjalani mos, kelas mulai diacak lagi. Aku tidak sekelas lagi dengan temanku, Mawan. Ya sudahlah tak apa. Akhirnya aku masuk ke kelas 7G bersama Fajar teman sekelasku selama mos. Di sinilah aku bertemu dengan Yazid, sahabatku sampai saat ini. Dia adalah anak sangat susah untuk diajak guyon. (Memang kau bisa melucu?). Itu sih tergantung dari apa yang aku pikirkan saat itu. Anak yang satu ini kalau aku ajak guyon pasti ditanggapi serius. Memang banyak yang mengatakan aku ini bermuka serius. Seperti muka-muka orang kejam. (Muka kau itu muka konyol). Sabar-sabar. Aku dulu kelas 7 pernah dekat dengan seseorang. Kita sebut saja namanya Lia. (Cieee kau pernah deket sama perempuan? Keajaiban yang luat biasa). Iyaiya--. Tapi, tidak terlalu dekat sama dia. Karena... (Kenapa kau? Epilepsi kau kumat?). Enak saja kau bicara. Aku tak punya penyakit aneh itu. Karena dia ternyata lebih dari apa yang aku bayangkan. Aku sempat digosipkan dengan dia. (Wah ternyata di sana anaknya kurang pandai mencari berita. Kenapa harus kau yang diambil beritanya?) Memangnya aku kurang enak diberitakan gitu. Memang kau pantas untuk diberitakan?(Ya tak juga. Nanti yang dengar takut semua kali). Aku semakin lama tak dekat lagi dengan dia. (Kenapa mas bro?). Ya gitu deh dia, kalau marah wah... mengerikan dan berubah menjadi lain. Tapi, aku mencoba untuk setia waktu itu. (Cie ilah kau ini setia-setian juga kau, tapi akhirnya kau juga putus). Diam kau!! Sekarang aku sudah punya pengganti kok. Ya masa kelas 7 ku memang tak terlalu berkesan. Tapi aku bisa bertemu dengan makhluk-makhluk itu juga aku sudah senang kok.

Masuk kelas 8, inilah saatnya untuk menceritakan hal yang sangat aneh dan gila-gilaan. (Memang kau dulu pernah aneh dan gila-gilaan?) Ya pernah dong. Aku kan di sini bertemu dengan makhluk-makhluk yang super aneh penghuni tempat ini. Aku di sini bertemu dengan Al, Re, Nem, Ti, and Yu. (Tu nama simpel amat). Sudahlah ini privasi. Nanti yang punya nama protes. Waktu pertama kali sekelas belum terjadi kegilaan yang aneh. Tapi, setelah beberapa bulan dijalani dengan sepenuh hati akhirnya muncul juga. Suatu ketika kami berlima duduk bersama, Aku, Al, Re, Nem, and Ti. (Lha terus Yu nya mana?) Oh kalau dia lebih suka menyendiri. Kelima anak ini, sungguh generasi emas untuk Stand Up Comedy semua. Yang Al ini anak yang super aneh. Kalau lagi riang gembira, gempar kelas, kalau lagi galau, lebay, kalau marah, nggak mengerikan. Terus Re. Anak yang satu ini punya suara yang langka. Kadang bisa imut seperti bayi. Kadang bisa kayak suara bumi bergerak. Selanjutnya Nem. Anak yang satu ini sebenaranya sudah aku kenal sejak kelas 7 sama Si Re. Tapi, aku baru tahu sifat aslinya ketika aku duduk di kelas 8 ini. Anak yang satu ini salah kemasukan roh mungkin dulu. (Kok bisa?). Ya begitulah tingkahnya seperti anak laki-laki. Aku bisa bilang pencilakaan berlebihan. Terus yang matanya sulit untuk melek, Ti. Anak yang satu ini selalu ngantukan di kelas. Untung saja nggak pernah ketiduran di kelas anak tu. Wajah-wajah tak bersemangat. Entah karena cinta tak tersampaikan tuh anak. Paling senang baca segala jenis komik dan novel. Dan yang terakhir adalah Yu. Anak yang paling kalem lan alim dari kita semua. Cowok paling anti cewek. Memang selama sekolah dia paling virgin dari kita semua. (He?). Ya begitulah makhluk-makhluk aneh ini bertemu denganku.

Kelas 8 adalah masa-masa di mana aku bisa mengekspresikan semua apa yang aku ingin ekspresikan.

Di kelas 9 adalah kelas di mana aku mulai bertemu dengan pujaan hatiku (Cieee Kau punya pujaan hati ternyata). Lho iya dong.  Memang semua tidak terjadi secara spontan. Tapi, aku selalu setia menunggu kok. Awal masuk kelas Sembilan, aku g dirundung kegalauan. Aku selalu keingat kenangan dengan sang mantan. Tapi, aku berusaha untuk melupakannya.(Wah hebat kau. Ternyata kau pernah galau juga). Ya iyalah aku kan punya hati juga. Tapi akhirnya aku bisa melupakan kenangan itu ketika aku mulai mengenal dia. (Dia?). Iya dia. (Siapa?). Ya itulah pokoknya. Aku mulai bisa melupakannya ketika aku mendapat surat ucapan ultah darinya. Aku memang harus mencari pengirimnya dulu. Tapi, aku sudah menebak dia pengirimnya. Aku mulai suka dengan dia. Dan pada akhirnya, dia mengatakan kalau dia suka denganku. Aku juga suka dengan dia.(Akhirnya kau merasakan jatuh cinta ya). Ya begitulah. Aku mulai merasakan hal yang sulit diungkapakan. Akhirnya, aku berencana untuk menembaknya. Tapi, aku masih punya janji pada diriku. (Janji apa kawan?). Janji jika aku tak pacaran dulu. (Tapi kau suka dengan dia kan?). Iya memang aku suka dengan dia, aku sayang dengan dia. (Lha terus kau bagaimana?). Akhirnya aku mengatakan aku akan nembak dia setelah UN. (Terus dia mau?). Iya. Dia mau menungguku. Dan aku tak ingin mengkhianati kepercayaannya. (Kau memang asyik kawan). Terima kasih kawan. Aku akan terus mengejar apa yang aku mimpikan. Aku akan terus melangkah dengan dia. (Asyik kawan. Semoga kalian langgeng kawan). Amin… kawan. Terima kasih do’anya. Dan aku akhirnya teringat sesuatu. Aku harus menyelesaikan sebuah petualanganku di sini kawan. Aku harus menutup petualanganku dengan sebuah prestasi yang memuaskan. Aku akan membuat sejarah di tempat ini. (Semangat kawan. Semoga itu dapat tercapai). Amin… kawan.

Itulah sepenggal dari ceritaku. Maaf jika ada kata-kata yang kurang mengenakan. Terima kasih sudah membaca. Akhirnya aku bisa berbagi cerita. (Ciiiieeee yang mau jadian). Diam kau!! (Hahahaha muka kau merah).


 Wassalamu'alaikum Wr. Wb. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar