Ini adalah sebuah tulisanku yang
pertama kali aku publikasikan menengenai hal yang cukup umum, tapi bukan
menjadi bidangku secara khusus. Aku akan berbagi sebuah pengalamanku selama 15
tahun mengenai sebuah memegang sebuah komitmen. Mungkin, aku bukanlah seorang
yang mudah untuk mengungkap sesuatu, khususnya hal yang bernama “Cinta”. Cinta bukan
hanya identik dengan namanya pacar atau kekasih. Cinta bisa kita utarakan ke
siapapun, kecuali kepada setan ya J.
Tapi, aku akan mengutarakan pengalamanku tentang cinta untuk sebuah hubungan
antara sepasang insan.
Selama 15 tahun aku baru sadar
bahwa rasa cinta itu sangat berarti dalam hidup ini ketika aku mulai belajar
untuk mengenal seorang wanita. Ketika itu aku masih berumur 10 thn. Sungguh,
umur yang sangat muda untuk melakukan hal ini. Tapi, aku memulai sebuah
hubungan pada usia 12 thn. Ketika itu, aku mulai merasakan hal yang berbrda
ketika aku mengenal seorang wanita. Akhirnya, aku jalani hubungan itu. Awalnya,
berjalan lancar. Tapi, setelah beberapa bulan mulai muncul masalah. Dan masalah
itu sulit untuk aku selesaikan. Ya, masalah itu adalah jarak. Masalah yang
sulit untuk mencari jalan keluarnya ketika kita masih berusia 13 tahun. Akhirnya,
hubungan itupun kandas.
Aku terus mencari apa yang salah
dengan hubunganku dulu. Ketika aku melihat sekelilingku, aku mulai sadar bahwa
banyak orang di luar sana yang menjalani hubungan, tapi akhirnya kandas dengan
tragis. Terus apa yang menyebabkannya? Akupun terus mencari jawabannya. Pada usia
14 tahun, akhirnya aku menemukan titik cerah tentang pertanyaanku yang sungguh
konyol itu. Aku mulai belajar dari hubungan kakakku. Kakakku mungkin sudah
lebih berpengalaman daripada aku. Aku pernah dia tidak bisa melupakan sang
mantan selama hamper 3 tahun. Itu terjadi ketika dia duduk di bangku SMA. Walaupun
dia pernah menjalin hubungan semasa SMA, tapi dia tak bisa melupakan sang
mantan di SMP, karena sang mantan adalah cinta pertamanya.
Di masa kuliahnya, dia bertekad
untuk melupakan sang mantan. Akhirnya, dia menemukan hal yang dia butuhkan. Dia
menjalin hubungan dengan teman sejurusan. Aku pernah berpikir, hubungan itu tak
kan berjalan lama. Tapi, dugaanku salah. Mereka masih langgeng menjalin
hubungan itu. Terus apa yang menyebabkannya? Aku masih bingung memikirkan hal
itu.
Suatu hari, ayah dan ibuku pernah
bertengkar. Ayahku hanya diam ketika ibuku mulai ngambek ke ayahku. Apa mereka
saling membenci? Jawabannya adalah tidak. Mereka tetap saling menyayangi dan
mencintai. Mereka saling diam adalah untuk merenungkan hal yang menyebabkan
masalah tersebut dan mencoba menyelesaikannya dengan kepala dingin. Mereka tidak
menghendaki sebuah perpisahan. Mereka saling menerima kekurangan satu sama
lain. Mereka mencoba untuk menutupi kekurangan satu sama lain.
Akhirnya, aku menyimpulkan bahwa
ketika kita menjalani sebuah hubungan, kita harus terlebih dahulu belajar untuk
menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Kita belajar untuk menutupi
kekurangan satu sama lain. Mengapa hal itu harus kita lakukan? Karena kita
sudah membuat sebuah komitmen. Kita harus tahu bahwa sebuah masalah yang
menimpa kita, kita harus mengingat sebuah komitmen yang kita buat itu. Kita mengambil
sebuah keputusan pasti ada resikonya. Ketika kita tidak dapat memegang komitmen
tersebut, pasti hubungan akan berakhir dengan hal yang tidak kita kehendaki. Tapi,
jika kita terus memegangi komitmen tersebut, hubungan akan terus lanjut sampai
kita tutup usia. Apa komitmen tersebut? Komitmen tersebut adalah “Aku cinta
kamu, Aku sayang kamu, Aku tak mau kita berpisah, perpisahan bukanlah jalan
keluar terbaik, Aku akan menerimamu apa adanya karena aku sayang dan cinta
kepadamu”. Itulah komitmen yang mungkin ada dalam pikiranku.
Aku akan menjalani hubungan baruku
ini dengan sebuah komitmen “Aku akan menerima kelebihan dan kekuranganmu. Aku akan
menjaga hubungan ini selama mungkin. Berubah bersama menjadi lebih baik. Aku tak
ingin kita berpisah karena aku cinta dan sayang kamu”. Itulah yang sebuah
komitmen yang coba aku pegang untuk menjalani hubungan ini.
Sebenarnya, komitmen itu
tergantung kepada orang yang membuatnya. Jadi, jika ada perbedaan itu adalah
yang wajar. Karena setiap orang memiliki pendapatnya sendiri-sendiri. Dan aku
hanya ingin hubunganku ini adalah hubunganku yang akan berjalan sampai akhir
hayatku.
Maaf jika ada kata yang kurang berkenan dari cerita di atas. Aku hanyalah seorang manusia yang tak luput dari kesalahan.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar