Sabtu, 01 Februari 2014

Sebuah Komitmen

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Ini adalah sebuah tulisanku yang pertama kali aku publikasikan menengenai hal yang cukup umum, tapi bukan menjadi bidangku secara khusus. Aku akan berbagi sebuah pengalamanku selama 15 tahun mengenai sebuah memegang sebuah komitmen. Mungkin, aku bukanlah seorang yang mudah untuk mengungkap sesuatu, khususnya hal yang bernama “Cinta”. Cinta bukan hanya identik dengan namanya pacar atau kekasih. Cinta bisa kita utarakan ke siapapun, kecuali kepada setan ya J. Tapi, aku akan mengutarakan pengalamanku tentang cinta untuk sebuah hubungan antara sepasang insan.
Selama 15 tahun aku baru sadar bahwa rasa cinta itu sangat berarti dalam hidup ini ketika aku mulai belajar untuk mengenal seorang wanita. Ketika itu aku masih berumur 10 thn. Sungguh, umur yang sangat muda untuk melakukan hal ini. Tapi, aku memulai sebuah hubungan pada usia 12 thn. Ketika itu, aku mulai merasakan hal yang berbrda ketika aku mengenal seorang wanita. Akhirnya, aku jalani hubungan itu. Awalnya, berjalan lancar. Tapi, setelah beberapa bulan mulai muncul masalah. Dan masalah itu sulit untuk aku selesaikan. Ya, masalah itu adalah jarak. Masalah yang sulit untuk mencari jalan keluarnya ketika kita masih berusia 13 tahun. Akhirnya, hubungan itupun kandas.
Aku terus mencari apa yang salah dengan hubunganku dulu. Ketika aku melihat sekelilingku, aku mulai sadar bahwa banyak orang di luar sana yang menjalani hubungan, tapi akhirnya kandas dengan tragis. Terus apa yang menyebabkannya? Akupun terus mencari jawabannya. Pada usia 14 tahun, akhirnya aku menemukan titik cerah tentang pertanyaanku yang sungguh konyol itu. Aku mulai belajar dari hubungan kakakku. Kakakku mungkin sudah lebih berpengalaman daripada aku. Aku pernah dia tidak bisa melupakan sang mantan selama hamper 3 tahun. Itu terjadi ketika dia duduk di bangku SMA. Walaupun dia pernah menjalin hubungan semasa SMA, tapi dia tak bisa melupakan sang mantan di SMP, karena sang mantan adalah cinta pertamanya.
Di masa kuliahnya, dia bertekad untuk melupakan sang mantan. Akhirnya, dia menemukan hal yang dia butuhkan. Dia menjalin hubungan dengan teman sejurusan. Aku pernah berpikir, hubungan itu tak kan berjalan lama. Tapi, dugaanku salah. Mereka masih langgeng menjalin hubungan itu. Terus apa yang menyebabkannya? Aku masih bingung memikirkan hal itu.
Suatu hari, ayah dan ibuku pernah bertengkar. Ayahku hanya diam ketika ibuku mulai ngambek ke ayahku. Apa mereka saling membenci? Jawabannya adalah tidak. Mereka tetap saling menyayangi dan mencintai. Mereka saling diam adalah untuk merenungkan hal yang menyebabkan masalah tersebut dan mencoba menyelesaikannya dengan kepala dingin. Mereka tidak menghendaki sebuah perpisahan. Mereka saling menerima kekurangan satu sama lain. Mereka mencoba untuk menutupi kekurangan satu sama lain.
Akhirnya, aku menyimpulkan bahwa ketika kita menjalani sebuah hubungan, kita harus terlebih dahulu belajar untuk menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Kita belajar untuk menutupi kekurangan satu sama lain. Mengapa hal itu harus kita lakukan? Karena kita sudah membuat sebuah komitmen. Kita harus tahu bahwa sebuah masalah yang menimpa kita, kita harus mengingat sebuah komitmen yang kita buat itu. Kita mengambil sebuah keputusan pasti ada resikonya. Ketika kita tidak dapat memegang komitmen tersebut, pasti hubungan akan berakhir dengan hal yang tidak kita kehendaki. Tapi, jika kita terus memegangi komitmen tersebut, hubungan akan terus lanjut sampai kita tutup usia. Apa komitmen tersebut? Komitmen tersebut adalah “Aku cinta kamu, Aku sayang kamu, Aku tak mau kita berpisah, perpisahan bukanlah jalan keluar terbaik, Aku akan menerimamu apa adanya karena aku sayang dan cinta kepadamu”. Itulah komitmen yang mungkin ada dalam pikiranku.
Aku akan menjalani hubungan baruku ini dengan sebuah komitmen “Aku akan menerima kelebihan dan kekuranganmu. Aku akan menjaga hubungan ini selama mungkin. Berubah bersama menjadi lebih baik. Aku tak ingin kita berpisah karena aku cinta dan sayang kamu”. Itulah yang sebuah komitmen yang coba aku pegang untuk menjalani hubungan ini.
Sebenarnya, komitmen itu tergantung kepada orang yang membuatnya. Jadi, jika ada perbedaan itu adalah yang wajar. Karena setiap orang memiliki pendapatnya sendiri-sendiri. Dan aku hanya ingin hubunganku ini adalah hubunganku yang akan berjalan sampai akhir hayatku.
Maaf jika ada kata yang kurang berkenan dari cerita di atas. Aku hanyalah seorang manusia yang tak luput dari kesalahan.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar