Sabtu, 18 Januari 2014

Sebuah Akhir dari Sebuah Kata Sang Penguasa Tanpa Singgasana

Aku terlahir dari sebuah desa yang mungkin tidak terlalu terkenal. Tempat kelahiranku bukanlah tempat yang istimewa. Masa kecilku banyak aku habiskan untuk mengenal segala hal di sekelilingku. Dan inilah semua awal dari sebuah perjalanan sehingga aku sampai di sini untuk berhenti dan menuliskan sebuah cerita di dalam sebuah prasasti yang akan aku ceritakan kepada cucuku suatu hari nanti.

Aku kecil bukanlah anak yang berani berbicara di depan banyak orang. Aku adalah anak yang super pemalu dari semua temanku sebaya. Aku lebih banyak diam di bangku kelas ketimbang mengemukakan kata-kata yang mungkin aku sendiri sulit untuk memahaminya. Ketika aku kecil aku memiliki sebuah ketakuatan yang sangat aneh untuk orang awam. Aku terkadang takut berbicara dengan orang lain meskipun  dia sudah aku kenal. Aku bukanlah orang yang pandai dalam hal berbicara dan menyusun kata secara spontan.

Semasa kecil aku mempunyai seorang teman khayalan yang sering aku ajak bicara sendiri ketika aku tidak ada yang menemani. Aku berbagi cerita walau aku bicara sendiri di dalam kamar. Tapi, bukan dalam bentuk sebuah boneka atau mainan lainnya yang biasa anak kecil mainkan. Temanku ini berwujud seperti diriku tetapi memiliki sifat yang lebih dewasa dari aku. Dia sering memberi sebuah saran ketika aku mempunyai masalah. Aku dulu sempat berpikir apa ini memang pikiranku sendiri. Tapi, ketika aku beranjak dewasa, temanku itu semakin lama semakin menghilang dan pergi entah ke mana.

Awal dari semua yang akan aku ceritakan adalah ketika aku mulai ditunjuk menjadi seorang ketua kelas. Peristiwa ini terjadi ketika aku kelas 4 SD. Awal-awal bulan tampak tak begitu berat bagiku. Tapi, ketika aku mulai dihadapkan kepada sebuah masalah yang umum tapi, sulit untuk aku selesaikan. Ketika kelas mulai tak terkendali dan aku tak bisa mengatasi sampai wali kelasku pun tak sanggup menghadapinya. Akhirnya aku dibebani untuk mengatur kelas. Terus aku hanya berpikir, Apa yang harus aku lakukan? Aku bukanlah orang yang pandai bicara. Apalagi waktu itu aku orang sangat pendiam. Tapi, untung aku punya sahabat yang selalu membantuku dalam hal mengatasi kelas. Dia yang membantuku dalam berbicara di dalam kelas.

Penderitaanku tidak sampai di situ saja. Hal yang sangat pahit pernah aku alami ketika waktu berjalan sebuah pelajaran sekitar pukul 08.00. Ketika itu aku dipukul oleh Kepala Sekolahku dulu hanya gara-gara aku dianggap tidak bisa mengkoordinir teman-temanku untuk piket. Terus apa itu semata-semata semua salahku? Jika demikian kenapa Aku diangkat menjadi ketua kelas jika aku dianggap tidak becus dalam melaksanakannya?. Aku hanya menerima dengan polosnya tanpa ada niat untuk protes maupun melakukan hal untuk pembelaan. Aku hanya duduk dengan kepala yang agak pusing. Ya menurutku lumayan untuk seumuranku.

Penderitaanku mulai meringan ketika aku mulai duduk di kelas 5 dan 6 SD. Teman-temanku mulai mengerti jika aku mulai merasa sudah merasa jenuh dan ingin mundur menjadi ketua kelas. Teman-temanku akhirnya dapat diajak kerja sama dalam mengondisikan kelas. Entah apa yang terjadi, atau mereka mulai merasa kasihan kepadaku. Aku merasa tak peduli ketika itu. Hari-hari aku jalani dengan santai tanpa ada tekanan yang menuntutku dengan cara-cara yang tak manusiawi. Aku akhiri dinasti di SD dengan kesuksesan yang mungkin tak pernah aku rasakan sebelumnya.

Aku masuk SMP Negeri. Aku migrasi ke kota dan meninggalkan sahabatku di kampung halamanku untuk memperoleh pendidikan yang lebih lengkap. Selain itu, ada tuntuntan lain yang membuatku harus migrasi. Awal masuk aku tak mempunyai bayangan yang akan membuatku tertekan dalam hal psikologis maupun fisik. Bulan-bulan awal aku masuk, aku nikmati dengan riang gembira. Tapi, tak dapat dikata lagi, mendung mulai menghampiriku. Ketika aku masuk kelas 7G, tak ada ketua kelas. Akhirnya, aku dengan senang hati menjadi ketua kelas sementara karena waktu itu dalam keadaan mendesak. Tapi, hal buruk mulai terjadi ketika wali kelasku menetapkanku menjadi ketua kelas permanen. Aku mulai bingung lagi. Aku ini anak yang tak pandai dalam memimpin sebuah perkumpulan. Apalagi, waktu itu aku belum begitu mengenal teman-teman sekelasku. Akhirnya, aku terima dengan berat hati. Setelah 3 bulan aku membangun dinastiku, aku merasakan tekanan yang begitu berat. Setiap malam aku hampir tak bisa tidur. Aku sangat tertekan sampai aku hampir strees sehingga nila-nilaiku sempat turun. Aku mengajukan untuk mengundurkan diri, tapi, wali kelasku tak setuju aku mengundurkan diri. Di sinilah awal dari semua ketidakpedulianku terhadap kelas. Aku merasa dipaksa. Aku dituntut selalu bisa mengendalikan kelas. Tanpa diberi sebuah cara-cara untuk mengendalikan kelas. Aku harus mencarinya sendiri. Akhirnya, di akhir semester aku mulai bisa melepas semua apa yang ingin aku katakan. Pertama kali aku murka di depan orang banyak.

Kelas 8, aku berniat tidak ingin menjadi ketua kelas lagi. Tapi, apa mau dikata lagi. Mimpi burukku masih berlanjut di kelas 8. Awalnya aku tak begitu keberatan dengan penujukan itu. Karena waktu itu kelasku dihuni oleh makhluk-makhluk yang dikenal pendiam. Kesan pertamaku memang benar. Di kelas inilah aku mulai tak tertekan lagi. Aku mulai menikmati kembali perasaan senang menjadi ketua kelas. Tapi, kesenangan itu tak berlangsung begitu lama. 1 tahun yang dulu ku anggap lama, berjalan menjadi begitu cepat. Di kelas inilah aku mengerti sebuah persahabatan dan pengertian.

Kelas 9, aku sudah bertekad dengan segenap hati untuk tidak menjadi ketua kelas lagi. Tapi.... Ternyata mimpi burukku masih saja berlanjut. Aku ditunjuk lagi menjadi ketua kelas untuk ke-6 kali berturut dalam jangka waktu 6 tahun. Presiden saja sampai kalah. Padahal aku sudah mengatakan keberatanku untuk menjadi ketua kelas lagi. Tapi, wali kelasku tak mempedulikan perkataanku. Akhirnya dengan sangat sangat berat hati aku terima kembali jabatan menjadi ketua kelas. Di kelas inilah aku mulai sangat membenci jabatan yang satu ini. Aku sudah jenuh dengan jabatan ini. Aku mulai tak peduli dengan keadaan kelas. Kenapa aku demikian? Aku hanya ingin istirahat. Aku hanya ingin melepas sejenak jabatan yang satu ini. Apa tidak ada yang lain yang bisa menjadi ketua kelas? Coba katakan padaku apa kelebihanku? Pintar di kelas? Pengalaman banyak? Itu saja. Jujur aku muak dengan kata-kata ketua kelas. Sangat muak. Aku benci menjadi ketua kelas. Aku sudah lelah menjadi ketua kelas. TAPI MENGAPA TIDAK ADA YANG MENGERTI PERASAANKU SEDIKITPUN? AKU INI SUDAH CAPEK. AKU INGIN ISTIRAHAT UNTUK SEMENTARA WAKTU. Aku ingin mengundurkan diri tapi trauma seperti dulu. Aku pernah berpikir untuk bunuh diri karena depresi dengan hal ini. Tapi, itu tindakan konyol.

Inilah semua ceritaku tentang ketua kelas. Aku hanyalah seorang penguasa tanpa singgasana. Aku menjadi ketua kelas adalah semata-mata mencari sebuah pengalaman. Tapi, itu sangat berat bagiku. Maaf jika di ceritaku di atas ada kata-kata yang kurang berkenan. Aku hanya ingin mengatakan sebuah pesan "HARGAILAH ORANG YANG MEMIMPINMU ASAL MEREKA BENAR. MENJADI SEORANG PEMIMPIN BUKANLAH HAL YANG MUDAH. MEREKA MENGALAMI TEKANAN TIDAK HANYA DARI SEGI FISIK TAPI JUGA DARI SEGI MENTAL DAN PSIKOLOGIS. JIKA KAU TAK MAU MENGHARGAI PEMIMPINMU, JADILAH KAU PENGGANTI PEMIMPINMU DAN RASAKAN APA YANG DIRASAKANNYA."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar