Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sebuah artikel mengenai Hipnetarapi Klinis yang mulai dikembangkan di Indonesia untuk menunjang penyembuhan dan pencegahan sebuah kanker.
Meski keberadaannya belum diakui lembaga medis di Indonesia,
hypnosis mulai banyak diterapkan untuk mendukung berbagai tindakan medis.
Hypnosis tidak menyembuhkan penyakit akibat tidak berfungsinya organ, tetapi
membantu pasien merasa lebih nyaman, mengurangi rasa sakit, hingga mengubah
pola hidup.
Hypnosis untuk mewujudkan maupun menjaga kesehatan seseorang
disebut hipnoterapi klinis. Orang yang melakukan disebut hipnoterapis.
Hipnoterapi berfungsi sebagai komplemen (pelengkap terapi) yang dilakukan
dokter. Karena itu, pasien yang menjalani hipnoterapi wajib patuh pada semua
anjuran dokter untuk mengobati penyakitnya.
Hipnoterapi klinis diklaim efektif mengobati berbagai
penyakit psikosomatis yaitu penyakit yang gejalanya muncul pada bagian tubuh
tertentu, tetapi sumber penyakitnya adalah kondisi mental emosional.
Salah satu contoh penyakit psikosomatis adalah seseorang
yang merasa sakit jantung karena mengalami rasa nyeri di dada, namun dokter
yang memeriksa secara detail tidak menemukan penyakit apa pun. Masyarakat awam
menganggap pemicu penyakit psikosomatis adalah stress. Padahal, stress yang
muncul merupakan manifestasi sakit yang terjadi pada pikiran atau mental.
Pikiran yang tak tenang, stress, tertekan diiringi berbagai
emosi negative, seperti marah, kecewa, dendam, benci, rasa bersalah, malu,
takut, sedih hingga terluka bisa menimbulkan sakit pada tubuh. Sebagai satu
kesatuan, pikiran dan tubuh saling mempengaruhi. Emosi memengaruhi pikiran dan
pikiran memengaruhi kondisi fisik.
Menurut Adi (Adi W. Gunawan, Presiden Asosiasi Hipnoterapi
Klinis Indonesia), sebagian besar penyakit dipicu oleh factor psikogenik yaitu
pikiran dan mental. Sisanya, dipicu kerusakan organ. Hal itu membuat
pengelolaan pikiran dan mental emosional penting untuk menyembuhkan penyakit
psikosomatis atau mengurangi keparahan penyakit akibat rusaknya organ.
Proses
Hypnosis dilakukan untuk menjangkau pikiran bawah sadar
seseorang. Pikiran bawah sadar menentukan 95%-98% keputusan, tindakan, emosi,
dan perilaku manusia. Di pikiran bawah sadar itulah emosi yang menjadi akar
masalah dan memicu berbagai penyakit ditata ulang untuk menghasilkan sikap atau
perilaku baru.
Untuk menjangkau pikiran bawah sadar, hipnoterapis akan
membuat klien rileks dan pikiran sadarnya tidak mengganggu. Selama pikiran
sadar tetap bekerja, mental emosional tidak bisa ditata karena selalu muncul
penolakan.
Jika gelombang otak diamati, selama proses mengarahkan
pikiran sadar menuju pikiran bawah sadar, gelombang otak klien akan berubah
dari gelombang beta yang memiliki frekuensi tinggi menuju gelombang theta yang
berfrekuensi rendah.
Selanjutnya, hipnoterapis akan membawa pikiran klien mundur
ke masa lalu hingga jauh ke masa kanak-kanak atau saat masih di kandungan.
Dalam pengaruh pikiran bawah sadarnya, klien diajak mencari akar persoalan
mental emosional yang memicu persoalan fisik yang dirasakan saat ini.
Persoalan mental bisa berupa rasa bersalah yang dalam karena
mengkhianati pasangan, dendam karena dicurangi teman, atau sugesti negative
orang tua yang membuat seseorang fobia sesuatu.
Walau berada dalam pikiran bawah sadar, orang yang
dihipnotis tidak akan kehilangan kesadaran. Ia tetap bisa menolak perintah
hipnoterapis yang dirasa mengancam
keselamatan hidupnya, bertentangan dengan moral agama, dianggap sesuatu yang
salah, atau dinilai tidak masuk akal.
Aplikasi
Hipnosis kini juga mulai banyak digunakan di bebrbagai
bidang kedokteran, baik untuk mengurangi keparahan suatu penyakit fisik,
mengurangi ketakutan atau rasa sakit di kedokteran gigi (hipnodontia),
mengurangi rasa sakit saat persalinan (hypnobirthing), hingga meningkatkan
kepuasan seksual.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi
metabolic dan diabetes Rumah Sakit Santosa, Bandung, Adhiarta, mengatakan,
hypnosis dapat digunakan untuk membantu pengidap diabetes mellitus tipe 2 atau
akibat gaya hidup untuk mengontrol gula darah. Tujuannya membuat pengidap makan
teratur sesuai anjuran ahli nutrisi dan berolahraga teratur.
Hypnosis juga bisa diaplikasikan pada penderita kanker.
Tindakan ini bukan untuk menyembuhkan kanker, tapi membantu penderita
mengurangi rasa sakit ketika menjalani raioterapi atau kemoterapi sehingga
tumbuh rasa nyaman yang bisa memperkuat system imunitas tubuh untuk melawan
sel-sel kanker.
Sumber : Kompas, Selasa, 19 November 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar