Jumat, 20 Desember 2013

Nyanyian Rindu


Coba engkau katakan padaku
Apa yang seharusnya aku lakukan
Bila larut tiba wajahmu terbayang
Kerinduan ini semakin dalam

Gemuruh ombak di pantai Kuta
Sejuk, lembut angin di bukit Kintamani
Gadis-gadis kecil menjajakan cincin
Kak mampu mengusir kau yang manis

Bila saja kau ada di sampingku,
sama-sama arungi danau biru
Bila malam mata enggan terpejam
Berbincang tentang bulan merah

Coba engkau dengar lagu ini
Aku yang tertidur dan tengah bermimpi
Langit-langit kamar jadi penuh gambar
Wajahmu yang bening, sejuk, segar

Kapan lagi kita akan bertemu
Meski hanya sekilas kau tersenyum?
Kapan lagi kita nyanyi bersama?
Tatapanmu membasuh luka,

 By Ebiet G. Ade
This song specially for QIF

Rabu, 18 Desember 2013

Sebuah Cerita Pendek dari Sang Pengembara

Ketika sang mentari tak kunjung datang
Hanyalah risau yang menyelimuti
Sungguh lama tuk dibanyangkan
Kan ke mana sang pemuda pergi

Sang pemuda duduk termenung
Melihat langit yang gelap mendung
Dia tak tahu 'kan ke mana pergi
Hanya duduk menyendiri

Air pun mulai jatuh menyerang
Sang pemuda tetap diam di sana
Air jatuh dengan sangat ganas
Bagai torpedo yang menemukan sasarannya

Sang pemuda hanya menutup mata
Kepalanya hanya menatap langit
Dia hanya mencoba jati dirinya
Mencoba mencari pendampingnya

Tak disangka air berhenti berjatuhan di kepalanya
Dia mencoba membuka mata perlahan
Tanpa disadari dia bertemu seorang perempuan
Yang membawakan dia sebuah pelindung

Dia berkata "Mengapa kau di sini? Aku mencarimu ke mana-mana. Aku khawatir kau pergi. Aku takut kau menghilang. Aku tak ingin kau sakit."
Sang pemuda hanya terdiam
Dia tak dapat mengatakan apapun
Tapi matanya tak bisa berbohong

Air pun tak terbendung keluar dari matanya
Dia tak mengerti apa yang harus dia buat
Dia hanya tahu akhirnya di menemukannya
Sebuah kasih sayang yang dia cari selama ini

Sang perempuan memeluk sang pemuda dan berkata
"Jangan pergi lagi. Jangan kau tinggalkan aku sendiri. Aku tak ingin kau pergi."
Sang pemuda mencoba menatap wajah perempuan itu
Dia memandang mata yang berkilauan tersebut

"Aku tak 'kan pergi lagi. Aku sudah menemukan apa yang aku cari. Aku akan ada di sampingmu."
Kedua insan itu akhirnya pulang
Mereka menemukan apa yang mereka cari
Kebahagian yang terpancar dari senyum mereka
Yang 'kan tetap terjaga dengan cinta dan kasih sayang yang tulus

Senin, 16 Desember 2013

Sebuah Sajak dari Kalbu

Ketika kalbu mulai menemukan sebuah arti
Terasa berbeda saat ditafsirkan
Mungkin ini perasaan yang tersembunyi
Sebuah sajak yang 'kan dituliskan

Hari demi hari berganti
Sang mentari selalu menemani setiap langkah
Menuju sebuah arti tersmbunyi
Dari setiap kaki melangkah

Ku tahu ada rasa yang berbeda
Ku tahu ada kehangatan yang muncul
Hati mulai berkata kepada sang logika
Menjelasakan makna yang merangkul

Awan mulai memberi petunjuk
Angin mulai membisikan
Dialah yang kau cari
Dialah yang kan memberimu kehangatan

Akhirnya aku di ujung sebuah jalan
Akhirnya aku temui seorang perempuan
Yang akan menghiasi hari-hariku
Menemani melewati setapak demi setapak jalan yang kan ku tempuh

Jumat, 08 November 2013

Rasio Emas

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sudah lama nggak buka...
Pada kesempatan hari ini aku ingin berbagi ilmu, yaitu "Rasio Emas" (habis lihat anime Cooking Master Boy hehe...). Baiklah inilah artikelnya... selamat membaca... semoga bermanfaat....

Dalam matematika dan seni, dua nilai dianggap berada dalam hubungan rasio emas(j) jika rasio antara jumlah kedua nilai itu terhadap nilai yang besar sama dengan rasio antara nilai besar terhadap nilai kecil. Nilai yang lebih besar dilambangkan dengan huruf a, sedangkan nilai yang lebih kecil dilambangkan dengan huruf b. Gambar di sebelah kanan menggambarkan hubungan geometrik yang jika dirumuskan secara aljabar adalah sebagai berikut:
dimana huruf Yunani phi (j) mewakili rasio emas. Nilainya adalah:
Setidaknya sejak Abad Renaisans, banyak seniman dan arsitek telah membuat proporsi karya sesuai dengan rasio emas—terutama dalam bentuk persegi emas, yaitu perbandingan sisi panjang terhadap sisi pendek sesuai dengan nilai rasio emas—dipercaya proporsi ini secara estetika sangat ideal. Sebuah persegi panjang emas dapat dipotong menjadi persegi dan persegi panjang kecil dengan rasio aspek yang sama persis. Para ahli matematika sejak zaman Euclid telah mempelajari rasio emas karena sifatnya yang unik dan menarik. Rasio emas juga digunakan dalam analisis pasar keuangan, serta strategi seperti retraksi Fibonacci.
Rasio emas sering kali disebut bagian emas (Latin: sectio aurea) atau rata-rata emas. Nama lainnya antara lain rasio ekstrem dan rata-ratabagian tengah, proporsi ilahiah, bagian ilahiah (Latin: sectio divina), proporsi emas, potongan emasangka emas, dan rata-rata Phidias.

Sejarah

Rasio emas telah memikat kaum intelektual barat dari berbagai latar belakang disiplin ilmu selama sekurangnya 2.400 tahun. Menurut Mario Livio:
Sekian banyak cendekiawan matematika dari berbagai era, seperti Pythagoras dan Euclid dari Yunani kuno, sampai ahli matematika Italia abad pertengahan Leonardo da Pisa dan ahli astronomi Renaissance Johannes Kepler, hingga tokoh-tokoh ilmuwan seperti pakar fisika dari Oxford Roger Penrose, telah menghabiskan banyak waktu untuk memahami rasio sederhana ini dengan sifat-sifatnya. Akan tetapi ketakjuban akan rasio emas ini tidak hanya terbatas di kalangan ahli matematika saja. Ahli biologi, seniman, musisi, sejarawan, arsitek, psikolog, dan bahkan ahli mistik telah berdebat mengenai hakikat keserbaadaannya dan daya tariknya. Bahkan, mungkin patut dikatakan bahwa rasio emas telah mengilhami begitu banyak pemikir dari berbagai disiplin ilmu dibandingkan angka apapun dalam sejarah matematika.
Ahli matematika Yunani kuno pertama kali mempelajari hal yang kini dikenal sebagai rasio emas karena kerap muncul dalam geometri. Pembagian garis menjadi "rasio ekstrem dan rata-rata" (bagian emas) sangat penting dalam geometri pentagram dan pentagon. Bangsa Yunani biasanya mengaitkan penemuan konsep ini dengan Pythagoras atau pengikutnya. Pentragram yang dibubuhi pentagon menjadi lambang kaum pendukung paham Pythagoras.
Elemen Euclid (Yunani: Στοιχεῖα) memberikan definisi tertulis pertama mengenai apa yang disebut sebagai rasio emas: "Sebuah garis dikatakan telah dipotong dalam rasio ekstrem dan rata-rata ketika panjang seluruh garis berbanding ruas panjang adalah sama dengan ruas panjang berbanding ruas pendek." Euclid menjelaskan cara memotong sebuah garis dalam "rasio ekstrem dan rata-rata", yaitu rasio emas. Di seluruh Element, beberapa pengajuan gagasan (teorema dalam istilah modern) serta pembuktiannya menggunakan rasio emas. Beberapa dari gagasan yang diajukan ini menunjukkan bahwa rasio emas adalah bilangan irasional.
Nama "rasio ekstrem dan rata-rata" adalah istilah utama yang digunakan pada abad ke-3 SM hingga sekitar abad ke-18 M.
Sejarah modern rasio emas dimulai dengan karya Luca Pacioli De divina proportione pada tahun 1509, yang memukau para seniman, arsitek, ilmuwan, dan mistik dengan rumusan matematika dan sifat-sifat istimewa rasio emas.

Penerapan dan pengamatan

Estetika

De Divina Proportione, sebuah buku tiga volume karya Luca Pacioli, diterbitkan pada 1509. Pacioli, seorang pendeta Fransiskan, dikenal sebagai ahli matematika, tetapi ia diketahui tertarik dan terlatih dalam bidang seni. De Divina Proportione mengeksplorasi matematika dari rasio emas. Sering disebutkan bahwa Pacioli adalah penganjur penerapan rasio emas untuk menghasilkan proporsi yang harmonis, indah, dan menyenangkan. Livio menunjukkan bahwa penafsiran ini salah akibat salah penerjemahan yang dirunut terjadi pada 1799, bahwa Pacioli sesungguhnya menganjurkan sistem Vitruvius untuk proporsi rasional. Pacioli juga melihat signifikansi iman Katolik dalam rasio ini, hal inilah yang mendorongnya memberi judul karyanya seperti demikian. Terdapat ilustrasi bangun karya Leonardo da Vinci, sahabat dan kolega Pacioli, De Divina Proportione menjadi pengaruh utama bagi seniman dan arsitek.

Arsitektur

Fasad dan elemen Parthenon serta bagian lainnya disebut-sebut dipengaruhi persegi panjang emas. Sementara para ilmuwan lainnya menolak anggapan bahwa Yunani menghubungkan keindahan dengan rasio emas.

Minggu, 06 Oktober 2013

Sebuah Puisi dari Orang yang Teraniaya

Selamat Tinggal
Aku tak kuat lagi
Aku tak tahan lagi
Aku akan pergi
Dan mungkin tak kembali
                Engkau sungguh tak menganggapku
                Engkau mungkin tak menyukaiku
                Aku pergi
                Bersama debu
                Yang tertiup angin di tepi jalan
                Selamat tinggal kawan…


Kamis, 26 September 2013

Sajak Chairil Anwar (Aku)

Aku

Kalau sampai waktuku
'ku tak mau seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini bintang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi